Selamat Datang di Blog ini. Semoga anda dapat menikmati informasi yang ada di dalamnya dan bermanfaat bagi anda
Triage ( Penolongan Korban Banyak )

Triage berasal dari bahasa Perancis yang berarti pemilahan. Dalam dunia medis istilah ini dipergunakan untuk tindakan pemilahan korban berdasarkan prioritas pertolongan atau transportasinya.


Prinsip utama dari triage adalah menolong para penderita yang mengalami cedera atau keadaan yang berat namun memiliki harapan hidup.

Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan adalah metode S.T.A.R.T atau Simple Triage and Rapid Treatment. Metode ini membagi penderita menjadi 4 kategori :
1.    Prioritas 1 – Merah
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada para penderita yang kritis keadaannya seperti gangguan jalan napas, gangguan pernapasan, perdarahan berat atau perdarahan tidak terkontrol, penurunan status mental
2.    Prioritas 2 – Kuning
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada para penderita yang mengalami keadaan seperti luka bakar tanpa gangguan saluran napas atau kerusakan alat gerak, patah tulang tertutup yang tidak dapat berjalan, cedera punggung.
3.    Prioritas 3 – Hijau
Merupakan kelompok yang paling akhir prioritasnya, dikenal juga sebagai ‘Walking Wounded” atau orang cedera yang dapat berjalan sendiri.
4.    Prioritas 0 – Hitam
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau mengalami cedera yang mematikan.

Pelaksanaan triage dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna prioritas. Tanda triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai hanya suatu ikatan dengan bahan yang warnanya sesuai dengan prioritasnya. Jangan mengganti tanda triage yang sudah ditentukan. Bila keadaan penderita berubah sebelum memperoleh perawatan maka label  lama jangan dilepas tetapi diberi tanda, waktu dan pasang yang baru.

Pelaksanaan Triage Metode S.T.A.R.T


Untuk memudahkan pelaksanaan triage maka dapat dilakukan suatu pemeriksaan sebagai berikut :

1.        Kumpulkan semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke areal yang telah ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
2.        Setelah itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
3.        Pernapasan :
a.    Bila pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
b.    Bila penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan napas dan bersihkan jalan napas satu kali, bila pernapasan spontan mulai maka beri label MERAH, bila tidak beri HITAM.
c.    Bila pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian kapiler.
4.        Waktu pengisian kapiler :
a.    Lebih dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan perdarahan besar bila ada.
b.    Bila kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
c.    Bila penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila tidak ada maka ini berarti bahwa tekanan darah penderita sudah rendah dan perfusi jaringan sudah menurun.
5.        Pemeriksaan status mental :
a.    Pemeriksaan untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
b.    Bila penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana maka beri MERAH.
c.    Bila mampu beri KUNING.

Setelah memberikan label kepada penderita maka tugas anda berakhir segera lanjutkan ke penderita berikut.



BAGAN PELAKSANAAN METODE START


Penilaian Penderita
Pelaku pertolongan pertama harus menilai penderita dan kaadaannya sedemikian rupa sehingga dapat melakukan penatalaksanaan penderita dengan baik.
Langkah - langkah penilaian adalah sebagai berikut :
A.    Penilaian Keadaan
Pada saat penolong mencapai tempat kejadian sebelum melakukan sesuatu hendaknya dilakukan penilaian keadaan terlebih dahulu, ini bertujuan untuk memperoleh gambaran secara umum tentang kejadian yang sedang dihadapi, faktor-faktor yang akan mendukung atau  menghambat pertolongan pertama.

1.      Bagaimana kondisi saat itu
Apa yang sedang dihadapi, berapa jumlah korban, bagaimana mekanisme kecelakaannya, bagaimana keamanan lingkungannya, rencana pertolongannya, apa saja yang bisa dimanfaatkan saat itu.

2.      Kemungkinan apa saja yang akan terjadi
Bahaya apa yang mungkin terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung bagi penolong, penderita, dan orang - orang yang berada di sekitar kejadian, misalnya kemungkinan ledakan, hubungan pendek arus listrik, tanah longsor, perkelahian, kebakaran, dll.

3.      Bagaimana mengatasinya
Penolong melakukan langkah - langkah untuk mengamankan keadaan atau ancaman bahaya dan menentukan tindakan pengamanan bila sesuatu terjadi. Cara - cara mengatasi keadaan secara sederhana dan cepat sehingga bantuan pertolongan tidak akan mengalami kesulitan.

INGAT!!! AMANKAN DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU

Di lokasi
Pada saat tiba di lokasi kejadian penolong harus :
Memastikan keselamatan penolong, penderita dan orang-orang di sekitar kejadian.
Penolong harus memperkenalkan diri.
Menentukan keadaan umum kejadian, memulai melakukan penilaian dini penderita.
Mengenali dan mengatasi gangguan / cidera yang mengancam nyawa.
Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan.
Minta bantuan.

B. Penilaian Dini
Pada tahap ini penolong harus mengenali dan mengatasi keadaan yang dapat mengancam nyawa penderita dengan cara yang tepat, cepat dan sederhana.

Langkah - langkah penilaian dini :

1.      Kesan umum
Tentukan terlebih dahulu penderita adalah kasus trauma atau kasus medis. Kasus trauma adalah kasus yang biasanya disebabkan oleh suatu ruda paksa/ trauma yang jelas terlihat, tidak jelas terlihat, dan atau teraba, misalnya kasus perdarahan,luka terbuka,  patah tulang, penurunan kesadaran.
Kasus medis adalah kasus yang diderita oleh seseorang tanpa ada riwayat ruda paksa, misalnya sesak nafas, nyeri dada dan lain - lain.

2.      Pemeriksaan respon
Untuk menentukan tingkat respon seseorang penderita berdasarkan rangsangan yang diberikan penolong ada empat tingkatan :
       A  =  Awas
Penderita sadar dan mengenali keberadaannya lingkungan serta waktu.
  S   =  Suara
       Penderita hanya menjawab / bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara.
   N   =  Nyeri
       Penderita hanya bereaksi terhadap rangsangan nyeri yang diberikan penolong, misalnya dicubit, ditekan pada titik tulang dada.
    T    =  Tidak Respon
      Penderita tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun yang diberikan oleh penolong.

3. Memastikan jalan nafas terbuka dengan baik
Cara menentukan keadaan jalan nafas tergantung dari keadaan penderita apakah ada respon atau tidak.
a.  Pasien dengan respon baik
Perhatikan pada saat penderita menjawab pertanyaan penolong. Adakah gangguan dari suara atau gangguan berbicara.
b.  Pasien yang tidak respon
Bila penderita tidak menderita / cidera spinal gunakan teknik angkat dagu tekan dahi. Sebaliknya bila ada kecurigaan maka gunakan teknik perasat pendorongan rahang bawah.

4.      Penilaian pernafasan
Periksa ada tidaknya nafas dengan cara lihat, dengar, dan rasakan selama 3-5 detik. Ini bertujuan apakah nafas penderita cukup untuk dapat mempertahankan hidupnya, bila ternyata penderita tidak bernafas maka segera lakukan nafas buatan.

5.      Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat

Menilai sirkulasi
1. Penderita respon, periksalah nadi radial (pergelangan tangan), pada bayi periksalah pada nadi brakial (bagian dalam lengan atas).

2. Penderita tidak respon, periksalah nadi karotis (leher) selama lima sampai 10 detik. Bila tidak ada nadi segera mulai tindakan resusitasi jantung paru.
         
Jangan terpaku pada cidera yang terlihat pastikan dahulu bahwa tidak ada perdarahan yang mengancam nyawa termasuk perdarahan yang tidak terlihat.

6.      Hubungi bantuan
Apabila dirasakan perlu segera minta bantuan rujukan, pesan yang disampaikan harus singkat, jelas dan lengkap.
Penilaian dini harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam nyawa sudah harus ditanggulangi sebelum pemeriksaan fisik.
Dalam penilaian dini perlu dipertimbangkan prioritas transportasi penderita, apakah harus sesegera mungkin atau dapat ditunda.



TANDA VITAL
Parameter yang dikelompokan dalam tanda vital adalah :
                                                                                   
Frekuensi Pernafasan Normal
Bayi
25 - 50 x / menit
Anak
15 - 30 x / menit
Dewasa
12 - 20 x / menit

Denyut Nadi Normal
Bayi
120 - 150 x / menit
Anak
80 - 150 x / menit
Dewasa
60 - 90 x / menit

Pemeriksaan denyut nadi dapat diperiksa di :
-      Leher (pembuluh nadi karotis)
-       Lengan atas (nadi brakialis)
-       Pergelangan tangan (nadi radialis)
-       Lipatan paha (nadi pemoralis)

Pemeriksaan denyut nadi dilaksanakan selama 15 detik hasilnya dikalikan 4 untuk mendapatkan nadi permenit.

Pemeriksaan suhu tubuh
Pada pemeriksaan suhu tubuh cukup diperoleh data mengenai suhu relatif saja dengan perabaan menggunakan punggung tangan, kelembapan kulit juga harus dinilai.

A.    Riwayat Penderita
Untuk menentukan riwayat penderita harus diadakan wawancara baik dengan penderita keluarga atau saksi mata. Riwayat penyakit ini sangat penting terutama pada kasus medis.

Untuk   memudahkan   mendata   riwayat   penderita   dikenal   dengan istilah
                      K-O-M-P-A-K.
K   = Keluhan utama (gejala dan tanda)
O   = Obat - obatan yang diminum ataupun yang belum
M = Makanan / minuman yang terakhir dimakan / diminum
P    = Penyakit yang diderita
A   = Alergi yang dialami
K   = Kejadian
B. Pelaporan
Semua pemeriksaan dan tindakan pertolongan dilaporkan secara singkat dan jelas kepada penolong selanjutnya.
Dalam laporan sebaiknya dicantumkan :
 Umur dan jenis kelamin penderita
Keluhan utama
Tingkat respon
Keadaan jalan nafas
Pernafasan
Sirkulasi
Pemeriksaan fisik yang penting
KOMPAK yang penting
Penata laksanaan
Perkembangan lainnya yang dianggap penting.

Dapur Umum
Pengertian Dapur Umum


Dapur Umum adalah Dapur Umum Lapangan yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia untuk menyediakan atau menyiapkan makanan dan dapat didistribusikan kepada korban bencana dalam waktu cepat dan tepat

Penyelenggaraan Dapur Umum dilakukan apabila tidak memungkinkan bantuan mentah untuk korban bencana. Penyelenggaraan Dapur Umum untuk melayani kebutuhan makan para penderita / korban bencana bukan monopoli organisasi PMI, namun dapat diselenggarakan oleh siapa saja dan dapat menyelenggarakannya

Penyelenggaraan Dapur Umum yang diselenggarakan oleh PMI Cabang menjadi tanggungjawab Pengurus PMI Cabang, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh regu yang ditugaskan oleh Pengurus Cabang. Regu disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah korban yang harus dilayani.

Pembagian Tim Pengelola ( Regu – Kelompok – Sektor ) dalam pelaksanaan Dapur Umum yang disesuaikan dengan kebutuhaan dan jumlah sasaran penerima bantuan yang harus dilayani  :

◙   Regu  :
Satu regu yang menangani 1 unit dapur umum dengan kapasitas maksimal melayani 500 orang sekurang-kurangnya terdiri dari  :
  1. 1 orang Ketua Regu
  2. 1 orang Wakil Ketua Regu
  3. 1 orang Penanggungjawab Tata Usaha
  4. 1 orang Penanggungjawab Peralatan dan Perlengkapan
  5. 1 orang Penanggungjawab Memasak
  6. 1 orang Penanggungjawab Distribusi
  7. Beberapa orang tenaga yang membantu terdiri dari unsur masyarakat di daerah bencana dan sekitarnya

◙   Kelompok  :
Bila diperlukan lebih dari satu regu Dapur Umum sekaligus, maka regu – regu tersebut diberi nomor urut dan dihimpun dalam kelompok. Kelompok dipimpin oleh Ketua Kelompok dan jika perlu dibantu oleh seorang pembantu umum

◙   Sektor  :
Apabila masyarakat yang dilayani cukup besar jumlahnya dan terpencar di daerah yang cukup luas, maka kelompok-kelompok Dapur Umum tersebut dapat dihimpun dalam satu wilayah kerja yang disebut sektor. Sektor tersebut dipimpin oleh Ketua dan seorang pembantu umum

Pelaksanaan

Dalam menentukan lokasi agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.    Letak Dapur Umum dekat dengan posko atau penampungan supaya mudah dicapai atau dikunjungi oleh korban
2.    Kebersihan lingkungan cukup memadai
3.    Aman dari bencana
4.    Dekat dengan transportasi umum
5.    Dekat dengan sumber air

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian :
1.    Distribusi dilakukan dengan menggunakan kartu distribusi
2.    Lokasi atau tempat pendistribusian yang aman dan mudah dicapai oleh korban
3.    Waktu pendistribusian yang konsisten dan tepat waktu
4.    Pengambilan jatah seyogyanya diambil oleh KK atau perwakilan yang sah
5.    Pembagian makanan bisa menggunakan daun, piring, kertas, atau sesuai dengan pertimbangan aman, cepat, praktis, dan sehat

Lama penyelenggaraan  :
1.    Diselenggarakan bila situasi untuk memberikan bahan mentah tidak mungkin
2.    Lamanya 1 –  3 hari untuk seluruh korban bencana
3.    Hari ke 4 – 7 pemberian dilakukan secara selektif
4.    Setelah lebih dari 7 hari diupayakan bantuan berupa bahan mentah

Kaitan Dapur Umum Dengan Standar Minimum

Standar-standar minimum ketahanan pangan, gizi, dan bantuan pangan adalah suatu pernyataan praktis dari asas-asas dan hak-hak seperti yang terkandung dalam Piagam kemanusiaan.Setiap orang berhak atas pangan yang cukup, hak ini diakui dalam Instrumen Hukum Internasional dan termasuk hal untuk terbebas dari kelaparan.

Aspek-aspek hak untuk mendapatkan kecukupan pangan tersebut di atas mencakup :
◙   Ketersediaan pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi individu, bebas dari bahan-bahan yanag merugikan, dan dapat diterima dalam suatu budaya tertentu.
◙   Pengan tersebut dapat dijangkau dengan cara berkesinambungan dan tidak mengganggu pemenuhan hak-hak asasi manusia lainnya

Pentingnya ketahanan pangan dalam masa bencana  :
◙   Ketahanan Pangan  :
Tercapai ketika semua orang dalam masa apapun mempunyai akses fisik dan ekonomis terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk dapat hidup sehat

◙   Penghidupan  :
Terdiri dari kemampuan, harta benda, dan aktivitas yang diperlukan untuk sarana kehidupan yang terkait dengan pertahanan hidup dan kesejahteraan di masa mendatang

◙   Kekurangan Gizi  :
Mencakup satu cakupan berbagai kondisi termasuk kekurangan gizi akut, kekurangan gizi kronis, dan kekurangan vitamin dan mineral.


**Materi Pelatihan KSR Dasar
Perawatan Keluarga



Prinsip Kerja Seorang Pelaku PK :


1.    Sikap yang baik seorang Pelaku PK penting untuk memberi kesan baik tentang kepribadiannnya:
§  Berperikemanusiaan
§  Bertanggungjawab
§  Selalu mengutamakan kepentingan si sakit
§  Selalu bersikap terbuka
2.    Menunjukan kemanuan kerja dengan tenang, cepat dan tanpa ragu-ragu.
3.    Mempunyai sifat ramah, selalu senyum, bersedia untuk mendengarkan keluhan dan mampu menenangkan si sakit.
4.    Berfikirlah sebelum bertindak atau bekerja
5.    Pengamatan serta informasi yang berwenang sangat bermanfaat dan membantu dalam menjalankan tugas perawatan
6.    Jagalah kebersihan lingkungan dan ruangan di sakit dengan tidak mengabaikan kebersihan diri sendiri.
7.    Catatlah selalu hasil pengamatan dan perawatan secara singkat jelas
8.    Usahakan agar tidak menambah penderitaan si sakit
9.    Jangan bertindak menyimpang dari peraturan dan perintah dokter/ petugas kesehatan.
10. Jika perlu untuk merujuk si sakit ke puskesmas atau rumah sakit, persiapkan dengan baik, baik keperluan orang sakit juga transportasi.
11. Selalu menjaga kerahasiaan medis pasien.


Peralatan Perawatan Keluarga :


1.    Peralatan yang diperlukan untuk PK tidak perlu sama dengan yang ada di rumah sakit, dengan peralatan sederhana kita dapat menolong orang sakit. Peralatan yang digunakan dapat menggunakan peralatan yang ada atau improvisasi.

2.   Perlengkapan PK sederhana :
Bagi Pelaku PK
◙   Celemek
◙   Peralatan mencuci tangan
§  Air mengalir (kran, botol, improvisasi lain)
§  Baskom (wadah menampung air)
§  Sabun dalam tempatnya (kalau perlu sikat tangan)
§  Handuk tangan/serbet.

Bagi orang sakit
◙   Peralatan tempat tidur
§  Tempat tidur dan bantal
§  Seprei, sarung bantal, kain perlak dan alas perlak (sedikitnya 2 set), selimut.
§  Alat penopang kaki (improvisasi)
◙   Peralatan mandi, buang air kecil (b.a.k), buang air besar (b.a.b)
§  2 ember
§  1 gayung
§  Baskom
§  2 washlap
§  2 handuk
§  Pasu najis
§  Labu kemih
§  Tissue
§  Air mengalir (di botol, ceret, wadah lainnya)
§  Sisir & alat make up untuk wanita
§  Air hangat dalam wadah
◙   Peralatan mencuci rambut
§  Talang plastik
§  Shampo
§  Alat pengering rambut (hair dryer, kipas, dll)
§  Handuk
§  Sisir
◙   Peralatan memelihara mulut
§  Sikat gigi
§  Pasta gigi
§  Bengkokan / kaleng / wadah penampungan buangan.
◙   Peralatan makan
§  Baki berisi : piring, sendok, garpu, gelas dengan tatakan dan tutupnya (dapat  diberi sedotan), serbet.
§  Meja kecil, bel (khusus untuk pasien yang dapat makan sendiri.
◙   Peralatan medis
§  Termometer, Tensi meter, Perban & Plester
◙   Peralatan Kompres
§  Washlap, air hangat atau air dingin
§  Kantong es/kompres dingin, kantong air panas/ kompres panas.
◙   Bahan lain yang diperlukan :
§  Talk, minyak pelumas & cream pelembab kulit.
◙   Desinfectant / cairan pensucihama & antiseptict.



 *materi 6 Pelatihan dasar KSR
CEDERA ALAT GERAK.
Alat gerak terdiri dari dari tulang, Sendi, Jaringan ikat dan otot pada manusia.
Secara Umum cedera pada alat gerak dapat berupa :
  1. Patah tulang.
  2. Kepala sendi atau ujung tulang keluar dari sendi ( cerai sendi, Dislokasi ).
  3. Otot atau sambungan ototnya teregang melebihi batas normal ( terkilir  otot, strain ).
  4. Robek atau putusnya jaringan ikat di sekitar sendi/terkilir sendi, Sprain

Patah Tulang.
Pengertian : Terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja.

Penyebab : Terjadinya Gaya yang melebihi kapasitas gaya elastisitas tulang sehingga jaringan tulang rusak. Gaya tersebut akibat kekerasan dari luar.

Cedera dapat terjadi sebagai akibat :
Gaya Langsung,  Gaya tidak langsung, Gaya Puntir.

Gejala dan Tanda :
1.      Terjadinya Perubahan Bentuk pada bagian tubuh yang patah. ( Bandingkan dengan sisi yang lain ).
2.      Daerah yang patah nyeri dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
3.      Bagian yang patah membengkak, Memar / Perubahan Warna.
4.      Mengalami Fungsi Gerak.
5.      Terdengan suara berderik.
6.      Mungkin terlihat bagian tulang yang patah pada luka.

Jenis Patah Tulang :

1.      Patah Tulang Tertutup : tidak ada luka.
2.      Patah Tulang Terbuka. : Ada Luka, Tulang yang patah berhubungan dengan udara, akan tetapi tulang yang patah tidak selalu terlihat atau menonjol keluar. ( Hati – hati Infeksi ).

Urai / Cerai Sendi ( Dislokasi ).
Pengertian : Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang ari sendinya.

Penyebab : Karena sendi teregang melebihi batas normal.
Gejala dan Tanda : Secara UMUM berupa gejala tanda patah tulang yang terbatas pada daerah sendi.

Terkilir / Keseleo.

Ada 2 macam :
1.      Terkilir Sendi ( Sprain ).
Pengertian : Robeknya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas normal.

      Penyebab : Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga menyebabakan sendi teregang melampaui gerakan normal.

Gejala dan tanda :
Nyeri bengkak., bengkak, Nyeri tekan, Memar.

2, Terkilir Otot ( Strain ).

Pengertian : Robeknya jaringan oto bagian tendon ( Ekor Otot ), karena teregang melebihi batas normal.

Penyebab : Umumnyaterjadi karena pembebanan secara tiba – tiba pada otot tertentu.

Gejala dan Tanda :
1, Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu.
2, Nyeri menyebar keluar dengan kejang atau kaku otot.
3, Bengkak pada daerah cedera.

PEMBIDAIAN

Pengertian : Upaya untuk menstabilkan dan mengistirahatkan ( Immobilisasi ) bagian yang cedera.

Tujuan :
1.      Mencegah pergerakan / Pergeseran dari ujung tulang yang patah.
2.      Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah.
3.      Memberi istirahatkan pada anggota badan yang patah.
4.      Mengurangi rasa nyeri.
5.      Mempercepat penyembuhan.

Macam – Macam Bidai :
1.      Bidai Keras. ( terbuat dari kayu, alumunium, dan bahan lainnya ).
2.      Bidai Traksi.
3.      Bidai Improvisasi.( Koran, Majalah dan Lainnya ).
4.      Gendongan / Belat dan Beban. ( Mitella dibuat Gendongan ).

Pedoman Umum Pembidaian.

1.      Sedapat mungkin informasikan tindakan yang akan dilakukan.
2.      Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera yang cedera dan rawat pendarahan bila ada.
3.      Selalu buka / bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau di daerah Distal.
4.      Nilai GSS ( Gerakan Sensasi Sirkulasi ) pad bagian Distal cedera sebelum melakukan Pembidaian.
5.      Siapkan Alat –  alatnya selengkapnya.
6.      Jangan berupaya merubah posisi bagian ynag cedera, upayakan membidai dalam posisi di temukan.
7.      Jangan berupaya memasukan tulang yang patah.
8.      Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah, Sebelum dipasang diukur dulu pada anggota badan yang sehat.
9.      Bila pada sendi bidai tulang yang mengapit sendi upayakan jangan membidai sendi distalnya.
10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak bila memungkinkan.
11. Isilah bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
12. Ikatan jangan terlalu longgar dan jangan terlalu keras.
13. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
14. Selesai Pembidaian lakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan pemeriksaan yang pertama.
15. Jangan membidai berlebihan.

Petolongan Cedera Alat Gerak.

1.      Lakukan Penilaian Dini.
-         Kenali dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.
-         Jangan terpancing oleh cedera yang terlihat berat.
-         Pasang bidai leher ( Neck Collar ) dan beri O2 bila ada.
2.      Lakukan pemeriksaan Fisik.
3.      Stabilkan bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah cedera, jangan menambah sakit penderita.
4.      Paparkan seluruh bagian yang di duga cedera.
5.      Atasi pendarahan dan rawat luka bila ada.
6.      Siapkan alat dan bahan untuk membidai.
7.      Lakukan pembidaian.
8.      Kurangi rasa sakit.
-         Istirahatkan bagian yang cedera.
-         Kompres es yang cedera ( Khususnya pada patah tulang tertutup ).
-         Baringkan penderita pada posisi yang nyaman.

Patah tulang, cerai sendi, dan terkilir / keseleo mungkin ditemukan bersamaan pada satu cedera.    

Penanganan terkilir .

1.      Letakkan penderita dalam posisi yang nyaman, istirahatkan bagian yang cedera.
2.      Tinggikan daerah yang cedera.
3.      Beri kompres dingi, selama 30 meni, ulangi setiap jam bila perlu.
4.      Balut tekan dan tetap tinggikan.
5.      Bila ragu rawat sebagai patah tulang.
6.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Menolong beberapa macam cedera alat gerak.

Patah Tulang Lengan Atas.
Pertolongan :
1.      Letakkan lengan bawah di dada dengan terlapak tangan menghadap kedalam.
2.      Pasang Bidai L atau bidai sampai siku.
3.      Ikat pada daerah diatas dan di bawah tulang yang patah.
4.      Lengan bawah di gendong.
5.      Jika siku juga patah dan tangan dan tangan tak dapat dilipat, pasang bidai sampai kelengan bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah di gendong.
6.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Patah Tulang Lengan Bawah.
Pertolongan :
1.      Letakan tangan pada dada.
2.      Pasang bidai dari siku sampai tangan.
3.      Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah.
4.      lengan yang digendong.
5.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Patah Tulang Panggul.
Tanda – tanda patah tulang panggul.
1.      Nyeri di daerah atas kemaluan bila penderita mencoba duduk atau berdiri.
2.      Kadang tidak mampu menggerakan kaki dan terasa kesemutan.

Pertolongan :
1.      Harus hati hati dalam memindahkan penderita.
2.      Penderita harus diangkat dengan usungan papan dengan ke dua kaki diikat menjadi satu.
3.      Di bawah lutut di beri bantal, letakkan bantalan lunak di samping kiri dan kanan tulang pinggul.
4.      Pembalut diikatkan pada tulang pinggul dan pergelangan kaki.
5.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Patah Tulang Paha ( Tungkai Atas ).
Pertolongan :
1.      Siapkan pembalutan secukupnya untuk mengikat bidai, sebaiknya pasang 2 bidai dari :
a.      Ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki.
b.      Lipat paha sampai sedikit melewati telapak kaki.
2.      Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah.
3.      Bila perlu ikat kedua tungkai di atas lutut dan pergelangan kaki / telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan.
4.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Patah tulang paha dapat menimbulkan perdarahan dalam sehingga penderita dapat mengalami syok.

Patah Tulang Tungkai Bawah.

Pertolongan :
1.      Siapkan Pembalut secukupnya untuk mengikat bidai.
2.      Sebaiknya pasang dua bidai sebelah dalam dan luar tungkai yang patah.
3.      Di antara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas.
4.      Bidai mulai dari lipat paha sampai sedikit melebihi telapak kaki.
5.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Patah Tulang Kaki.
Pertolongan :
1.      Apabila tidak ada perdarahan, sepatu tidak di buka sebab sudah merupakan bidai.
2.      Bila ada perdarahan banyak dan terjadi pembengkakan, maka sepatu dibuka, bila sukar di gunting.
3.      Hentikan pendarahan yang terjadi.
4.      Beri kapas atau kain  pada telapak kaki, kemudian pasang bidai yang sesuai dengan panjang telapak kaki.
5.      Beri ikatan pada kaki dan jangan terlalu kencang.
6.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Urai Sendi Rahang Bawah.
Gejala dan Tanda.:
a.      Mulut terbuka.
b.      Rahang bawah kaku sukar digerakan.
c.      Rasa nyeri.
d.      Sukar berbicara.

Pertolongan :
1.      Bungkus kedua ibu jari penolong, maksud agar tidak licin dan mencegah jari cedera bila terkatup mulut si penderita.
2.      Berdiri di depan penderita.
3.      Letakan ibu jari di geraham penderita.
4.      Tekan kearah bawah dan dorong ke arah belakang kemudian ke atas, cepat cepat lepaskan ibu jari dari mulut penderita.
5.      Setelah kembali Normal Imobilisasi daerah tersebut.
6.      Rujuk ke fasilitas kesehatan.


  • My Time



    FOLLOWERS

    Powered By Blogger

    Bagaimana Kinerja PMR Wira 271 Pacitan menurut Anda?